Opinion, Personal

Mungkin Kamu Bukan Jenuh, Tapi Hanya Tidak Bertumbuh

plateu stagnansi

Pernah nggak sih kamu merasa jenuh? Terutama dengan rutinitas atau pekerjaan yang itu-itu saja. Padahal kalau dipikir-pikir, kamu sebenarnya nggak benar-benar membencinya. Kamu masih bisa mengerjakannya dengan baik. Target tercapai. Tanggung jawab selesai. Bahkan mungkin kamu sudah sangat menguasainya. Tapi entah kenapa, rasanya seperti berjalan di jalur yang sama terus-menerus.

Aku pernah ada di titik itu.

Setelah lebih dari satu dekade berada di industri yang sama, semuanya terasa familiar. Aku tahu ritmenya, paham sistemnya bahkan kadang sudah bisa menebak bagaimana sebuah situasi akan berkembang atau berakhir. Sebenarnya wajar saja namun itu bukan hal yang baru. Awalnya aku mengira ini tanda aku mulai jenuh. Atau mungkin aku kurang bersyukur, naudzubillah. Tapi semakin kupikirkan, rasa ini bukan sekadar bosan.

Jenuh biasanya datang ketika kita tidak menyukai apa yang kita lakukan. Ketika energi terkuras (drain energy) dan kita ingin menjauh. Tapi yang kurasakan berbeda. Aku masih peduli. Masih tertarik. Hanya saja, rasanya seperti kapasitas diriku berkembang lebih cepat daripada ruang yang tersedia untukku.

Dan mungkin, di situlah letak perbedaannya.

Jenuh vs Tidak Bertumbuh

Sering kali kita menyebut semua rasa tidak nyaman sebagai “jenuh”. Padahal belum tentu begitu.

Jenuh biasanya muncul ketika kita tidak menyukai apa yang kita lakukan. Ketika energi terasa terkuras dan kita ingin menjauh dari aktivitas itu. Tapi ada juga rasa lain yang mirip jenuh, tapi sebenarnya berbeda. Kita masih peduli dengan pekerjaan kita, masih ingin melakukan yang terbaik, tapi rasanya seperti berjalan di tempat yang sama terlalu lama.

Di sinilah aku mulai menyadari bahwa yang kurasakan mungkin bukan jenuh, melainkan stagnasi.

Dalam buku The Things You Can See Only When You Slow Down, Haemin Sunim menulis bahwa sering kali masalah hidup bukan karena dunia kita terlalu rumit, tapi karena kita terlalu sibuk berlari sehingga tidak sempat melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri kita. Ketika kita memperlambat langkah dan mulai mengamati diri sendiri dengan jujur, kita bisa menemukan bahwa rasa tidak nyaman itu sebenarnya adalah sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan.

Dan mungkin, rasa yang kita sebut “jenuh” itu sebenarnya hanya sinyal bahwa kita sudah terlalu lama berada di tempat yang sama.

Angela Duckworth dalam bukunya Grit juga menjelaskan bahwa pertumbuhan tidak datang hanya dari bekerja keras atau mengulang hal yang sama setiap hari. Pertumbuhan datang dari deliberate practice, latihan yang menantang kita keluar sedikit dari kemampuan yang sudah kita kuasai. Ketika kita hanya mengulang apa yang sudah bisa kita lakukan dengan baik, kita memang terlihat produktif, tapi sebenarnya tidak benar-benar berkembang.

Itulah yang oleh banyak ahli disebut sebagai plateau: fase ketika performa tetap stabil, tetapi pertumbuhan kemampuan mulai melambat karena tantangan yang dihadapi tidak lagi cukup mendorong kita untuk berkembang.

Dan mungkin di situlah perbedaannya.

Jenuh membuat kita ingin berhenti.

Tapi tidak bertumbuh membuat kita ingin mencari tantangan baru.

Ketika Kapasitasku Diam-Diam Bertambah

Beberapa waktu lalu, aku menerima email tentang peluang karier di industri yang berbeda. Tiba-tiba saja pikiranku aktif. Rasa ingin tahu muncul. Aku mulai membaca tentang semiconductor, tentang Nvidia, dan tentang bagaimana industri teknologi berkembang begitu cepat.

Tapi kalau aku jujur, fase ini sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum email itu datang.

Sekitar tahun 2023, setelah hampir sembilan tahun berada di dunia alat berat, aku memutuskan untuk kuliah lagi. Bukan karena terpaksa. Bukan juga karena tuntutan kantor. Tapi karena ada sesuatu yang terasa kurang.

Di luar, hidupku terlihat stabil. Karier berjalan. Gaji ada. Tanggung jawab selesai. Tapi di dalam, ada rasa seperti berdiri di ruangan yang sama terlalu lama.

Aku ingin menantang diriku lagi.

Maka aku kuliah lagi.

Lucunya, di tengah kesibukan bekerja dan menjadi ibu, justru otakku terasa lebih hidup. Membaca jurnal. Mengerjakan tugas. Berdiskusi. Mengolah data. Rasanya seperti membuka jendela yang sudah lama tertutup.

Di situlah aku mulai sadar: mungkin bukan pekerjaanku yang membuatku jenuh. Mungkin kapasitas berpikirku yang sudah bertambah.

Dalam psikologi perkembangan, ada konsep yang disebut growth need. Dalam teori Self-Determination dari Edward Deci dan Richard Ryan, manusia tidak hanya memiliki kebutuhan akan keamanan dan stabilitas, tetapi juga kebutuhan akan kompetensi dan perkembangan diri. Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, seseorang bisa merasa stagnan, meskipun secara objektif hidupnya terlihat baik-baik saja.

Aku merasakannya.

Aku mulai rajin membaca buku bisnis. Mulai belajar literasi keuangan lebih dalam. Mulai tertarik memahami sistem organisasi, bukan hanya menjalankan peran di dalamnya. Aku ingin melihat perusahaan dari sudut pandang stakeholder, bukan hanya sebagai karyawan.

Aku ingin naik level dari cara berpikir.

Dan ternyata, semakin aku belajar, semakin aku menyadari bahwa ada dunia yang jauh lebih luas dari yang selama ini kukenal. Aku masih harus banyak belajar. Gak boleh ada rasa mental block apalagi jika dikaitkan dengan peranku sebagai ibu, dimana harus ikut belajar memahami dunia anak masa kini yang jauh berbeda dengan jamanku dulu.

Penelitian yang pernah dibahas dalam Harvard Business Review menyebut adanya konsep learning plateau — fase ketika seseorang sudah sangat menguasai pekerjaannya sehingga tidak lagi mengalami peningkatan kompetensi yang signifikan. Pada titik ini seseorang bisa tetap produktif, bahkan terlihat stabil dari luar, tetapi pertumbuhannya mulai melambat. Tanpa tantangan baru, motivasi intrinsik perlahan menurun.

Aku rasa, aku berada di titik itu.

Bukan karena industri alat berat tidak menarik. Tapi karena aku sudah terlalu memahami pola-polanya.

Dan ketika seseorang sudah menyelesaikan satu level, wajar jika ia mulai mencari level berikutnya.

Islam dan Perintah untuk Bertumbuh

Di fase refleksi itu, aku sering kembali pada ayat yang sederhana tapi kuat maknanya:

“Dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’”
(QS. Taha: 114)

Ayat ini tidak memberi batas.

Tidak ada keterangan “cukup sampai di sini saja”. Tidak ada pesan untuk berhenti setelah hidup terasa stabil.

Permintaan untuk bertambah ilmu adalah doa yang terus-menerus.

Allah juga berfirman:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)

Ilmu bukan hanya soal gelar. Ilmu adalah cara berpikir. Cara memandang sistem. Cara memahami dunia yang terus berubah.

Mungkin itu sebabnya aku merasa terdorong untuk melanjutkan studi, membaca lebih banyak, dan merencanakan S2. Bukan sekadar demi titel, tapi demi kapasitas.

Karena bertumbuh adalah bagian dari amanah.

Kalau Allah sudah memberi potensi, bukankah itu harus dikembangkan?

Apa yang Bisa Dilakukan Ketika Jenuh?

Kalau kamu merasa berada di fase seperti ini, mungkin beberapa hal ini bisa dicoba:

  1. Pertama, jujur pada diri sendiri. Apakah kamu benar-benar membenci apa yang kamu lakukan, atau sebenarnya hanya merasa tidak tertantang lagi?
  2. Kedua, coba identifikasi area mana yang masih bisa dikembangkan dalam pekerjaanmu sekarang.
  3. Ketiga, mulai belajar sesuatu yang membuat otakmu terasa “hidup” lagi.
  4. Keempat, cari mentor atau komunitas yang cara berpikirnya lebih luas.
  5. Dan kelima, perbanyak membaca dan berdiskusi tentang hal-hal di luar lingkaran rutinitasmu.

Kadang kita tidak butuh perubahan besar. Kita hanya butuh perspektif baru.

Finally

Plateau bukan kegagalan.

Plateau adalah tanda bahwa kita sudah menyelesaikan satu level.

Dalam dunia pembelajaran, dikenal konsep Zone of Proximal Development dari Lev Vygotsky—bahwa perkembangan optimal terjadi ketika seseorang berada sedikit di luar zona nyaman, tetapi masih dalam jangkauan kemampuannya.

Jika terlalu nyaman, tidak ada pertumbuhan. Jika terlalu sulit, kita bisa terhimpit.

So, mungkin sekarang aku hanya sedang mencari zona berikutnya.

Dan mungkin kamu juga.




Referensi:

Duckworth, A. (2016). Grit: The Power of Passion and Perseverance. New York: Scribner. (Buku Koleksi Pribadi)

Sunim, H. (2017). The Things You Can See Only When You Slow Down: How to Be Calm in a Busy World. London: Penguin Books. (Buku Koleksi Pribadi)

Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The “What” and “Why” of Goal Pursuits: Human Needs and the Self-Determination of Behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227–268. https://doi.org/10.1207/S15327965PLI1104_01

Harvard Business Review. (2019). The Learning Plateau: Why Employees Stop Growing and How to Restart Development. Harvard Business Publishing. https://hbr.org/

Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Cambridge, MA: Harvard University Press. (ChatGPT)

Leave a Reply