Financial

Ketika Harga Emas Naik Bikin Cemas, Belajar Literasi Keuangan Tidak Boleh Malas

emas dan literasi keuangan di 2026

Sejak awal bekerja, aku punya target sederhana yaitu memiliki tabungan dan merasa aman secara finansial. Waktu itu, aku percaya bahwa dengan rajin menabung sudah cukup sebagai bentuk tanggung jawab orang dewasa dalam mengelola keuangan. Aku termasuk tipe orang yang cukup saklek soal uang. Gaji masuk, langsung disisihkan. Tidak besar, tapi konsisten. Buatku saat itu, menabung adalah pilihan paling masuk akal. Aman, minim risiko, dan tidak perlu banyak mikir. Saking senangnya menabung, aku membagikan tips supaya menabung jadi lebih menyenangkan. Jujur saja, saat itu aku belum terlalu memikirkan soal literasi keuangan. Yang penting uang tidak habis dan ada sisa di rekening.

Aku belum paham tentang inflasi.
Tidak memikirkan nilai uang yang bisa berkurang nanti.
Apalagi investasi.
Uang yang tidak dipakai ya disimpan di rekening. Selesai.

Sampai suatu hari, aku mulai merasa ada yang tidak beres. Tabunganku bertambah, tapi rasanya seperti tidak bertambah. Harga kebutuhan sehari-hari pelan-pelan naik. Biaya hidup terasa makin berat. Dan belakangan ini, harga emas naik terus sampai di titik yang mulai bikin cemas.

Bukan karena aku tidak punya emas. Tapi tiba-tiba muncul pertanyaan yang terus berputar di kepala:
“Kalau harga emas naik secepat ini, sebenarnya uangku selama ini sedang berada di posisi yang tepat gak ya?”
“dulu gajiku bisa untuk beli emas 5 gram masih ada buat hidup, tapi sekarang beli 1 gram aja rasanya berkurang 30-40% gajiku”,

Makanya mikir.

Di titik itu aku baru benar-benar sadar satu hal penting:
Menabung saja tidak cukup kalau kita tidak memahami literasi dan pengelolaan keuangan. So, di postingan pertama tahun 2026 ini, aku ingin menceritakan perjalanan literasi keuanganku sebagai orang biasa saja, tanpa background keuangan yang kuat dan teknis, tapi sedang bertumbuh dan berproses memiliki kondisi keuangan yang lebih baik demi keluarga.

Dari Menabung ke Literasi Keuangan

Aku mengenal literasi keuangan bukan dari seminar mahal atau buku teori yang berat. Aku mengenalnya dari beberapa acara diskusi tentang keuangan keluarga yang pernah aku ikuti sebagai blogger, dan dari situ aku mulai menuliskan pemahamanku sendiri. Bahkan, sebelum pandemi, aku sudah menulis tentang kebiasaan-kebiasaan sederhana untuk menjaga kesehatan finansial keluarga di platform Kumparan.

Waktu itu, fokusku masih sangat dasar dengan kenali kondisi keuangan. Rajin mencatat pemasukan dan pengeluaran, tahu aset yang dimiliki, sadar berapa cicilan dan kewajiban. Konsepnya sederhana, Apakah penghasilan masih lebih besar dari pengeluaran? Apakah ada sisa uang yang bisa ditabung dari semua kebutuhan?. Dari situ seharusnya arah perencanaan keuangan ditentukan.

Masalahnya, mengetahui secara konsep tidak selalu berarti menjalankan dengan disiplin. Aku masih menabung tanpa struktur yang jelas. Semua uang aku campur.  Secara angka terlihat aman, tapi secara praktik justru rapuh. Begitu ada kebutuhan mendadak, aku tetap pada perasaan gak enak saat mengeluarkannya (spending).

Di acara yang berbeda masih di 2019 bersama Blogger Perempuan Network, aku mulai paham pentingnya memisahkan uang. Bukan hanya soal menahan diri dari gaya hidup yang berlebihan, tapi soal memberi peran yang jelas pada setiap rupiah. Uang untuk hidup sehari-hari, uang untuk kewajiban, uang untuk masa depan, dan uang untuk kondisi darurat semuanya tidak bisa disatukan. Ini juga cikal bakal aku kenal dan jadi pengguna Jenius. Aku bisa memisahkan beberapa kantong tujuan keuangan atau “dreamsaver” menggunakan Jenius.

Praktik menyiapkan dana darurat menjadi titik balik yang paling terasa dampaknya. Saat aku mulai memisahkannya, situasinya berubah. Bukan karena jumlahnya langsung besar, tapi karena pengambilan keputusan jadi lebih tenang. Ketika ada kejadian tak terduga seperti pandemi di akhir tahun itu juga, aku tidak lagi kaget yang berakibat terganggunya tabungan lain atau merasa bersalah pada rencana jangka panjang yang sudah disusun.

Dari pengalaman itu, finally, aku bisa menarik kesimpulan bahwa pengelolaan keuangan bukan cuma soal angka, tapi soal struktur dan kebiasaan. Ketika strukturnya jelas, seperti porsi pengeluaran, tabungan masa depan, dana darurat, dan proteksi, maka pikiran jadi lebih tenang. Keputusan tidak lagi diambil karena panik atau ikut-ikutan, tapi karena memang sudah dipikirkan sejak awal. Karena ketakutan itu hadir dari ketidaktahuan. Jadi dengan belajar literasi keangan, aku jadi sadar untuk tahu kenapa satu keputusan diambil, dan apa konsekuensinya.

RDPU Investasi Pertamaku

Setelah dana darurat mulai aman dan aku makin paham struktur keuangan, aku sampai pada satu pertanyaan lanjutan: uang yang tidak terpakai dalam waktu dekat sebaiknya diapain ya? Menyimpannya di tabungan terasa aman, tapi aku mulai sadar bahwa uang itu benar-benar diam kan. Next, aku mengenal Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) dari teman kantor yang kebetulan adik tingkat kuliah. Bukan karena tergiur imbal hasil, tapi karena produknya terasa paling masuk akal dengan kondisiku saat itu di Januari tahun 2022. RDPU tidak menjanjikan hasil besar, tapi relatif stabil dan risikonya rendah. Buatku, itu sudah cukup sebagai langkah awal.

Aku memilih RDPU sebagai produk investasi pertamaku karena beberapa alasan sederhana. Pertama, likuiditasnya tinggi. Uangnya bisa dicairkan relatif cepat jika dibutuhkan, sehingga tidak mengganggu rasa aman yang sudah aku bangun lewat dana darurat. Kedua, fluktuasinya tidak ekstrem, jadi secara mental lebih mudah diterima. Aku bisa belajar melihat naik-turun nilai investasi tanpa panik berlebihan.

Di fase ini, tujuanku bukan memaksimalkan return, tapi membangun habit. Membiasakan melihat uang “bergerak”. Membiasakan diri dengan konsep risiko, sekecil apa pun itu. RDPU menjadi jembatan antara menabung dan berinvestasi, tanpa membuatku merasa sedang berjudi dengan uang sendiri. Hasilnya memang tidak spektakuler. Naiknya pelan, bahkan sering terasa biasa saja seperti siput. Tapi justru dari situ aku belajar bahwa investasi tidak selalu harus menarik atau menegangkan. Ada fase di mana stabilitas dan konsistensi jauh lebih penting daripada angka besar di atas kertas.

RDPU juga mengajarkanku satu hal penting: investasi yang tepat adalah yang sesuai dengan kondisi dan kesiapan mental. Bukan yang paling populer saat itu, bukan yang paling sering dibicarakan orang, tapi yang bisa dijalani dengan tenang dan konsisten. Dan untukku, RDPU adalah langkah awal yang realistis sebelum melangkah ke instrumen lain.

Aku Masuk Saham di 2024 Setelah Lebih Paham

Perjalanan berikutnya, aku masuk saham baru di Januari tahun 2024. Bukan karena ikut-ikutan, bukan karena FOMO, dan bukan juga karena merasa sudah pintar. Justru sebaliknya, aku masuk dengan sangat hati-hati. Karena saat di RDPU aku sempat membeli juga reksadana pasar saham dan ketika turun mentalku belum siap. Nah, salah satu hal yang sangat aku syukuri adalah keputusanku kuliah lagi di 2023. Dari situ aku kembali belajar akuntansi secara lebih rapi dan terstruktur. Pelajaran yang dulu mungkin terasa teoritis, di fase ini justru jadi sangat relevan. Aku mulai benar-benar memahami bagaimana membaca laporan keuangan dan menjadi landasanku memilih saham.

Gara-gara mata kuliah akunting walau untuk jurusan IT, aku jadi lebih paham siklus keuangan perusahaan, bagaimana melihat kondisi perusahaan dari neraca, arus kas, dan laporan laba rugi. Aku belajar membedakan mana perusahaan yang kelihatannya ramai dibicarakan, tapi sebenarnya rapuh, dan mana yang mungkin tidak terlalu heboh, tapi secara fundamental sehat.

Dari situ, cara pandangku terhadap saham berubah. Aku menyadari bahwa pendekatanku memang lebih ke fundamentalis bukan trading. Aku lebih nyaman secara mental dan “keyakinan” memilih saham dengan beberapa kriteria. Seperti bisnisnya apa dan bagaimana kesehatan keuangannya. Lalu, aku tidak hanya mempertimbangkan harga jangka pendek itulah kenapa aku tidak tertarik trading harian, tapi alasan paling jujurnya ya karena aku bekerja. Fokus utamaku tetap di pekerjaan dan keluarga, bukan memantau layar harga setiap jam.

Sebagai fundamentalis, aku tidak berharap hasil instan. Yang aku cari adalah yang masuk akal: apakah bisnisnya jelas, keuangannya sehat, dan aku paham apa yang sedang aku beli. Aku tidak akan masuk ke saham yang overvalued, terlalu banyak hutang, memiliki anak perusahaan kredit atau bank, dan bank konvensional. Hal ini merupakan batasan pribadi berdasarkan prinsip dan kenyamananku sendiri, bukan penilaian mutlak terhadap semua jenis saham. Tapi, apakah dengan begitu semuanya berjalan mulus dan tenang-tenang saja? Tentu tidak, tetap ada rasa khawatir tapi bedanya, aku tidak lagi sepenuhnya buta dan panik.

So, aku semakin yakin bahwa literasi keuangan bukan tentang seberapa agresif kita berinvestasi, tapi tentang seberapa sadar kita mengambil keputusan. Aku tidak perlu selalu benar. Yang penting, aku paham risikonya dan siap dengan konsekuensinya. Masuk pasar saham di 2024 buatku bukan soal “akhirnya berani”, tapi soal akhirnya cukup paham untuk melangkah. Pelan, dengan dasar, dan dengan kesadaran bahwa keuangan adalah proses panjang—bukan lomba cepat kaya.

Menyatukan Emas dan Literasi Keuangan

Memasuki 2026, cara pandangku terhadap keuangan terasa jauh lebih utuh. Bukan karena aku merasa sudah ahli, tapi karena potongan-potongan yang dulu terpisah akhirnya mulai menyambung. Termasuk soal emas.

Sebenarnya, aku sudah membeli emas sejak lama. Jauh sebelum aku paham istilah literasi keuangan atau investasi. Sejak awal bekerja, sekitar 2014–2015, setiap kali ada kelebihan uang, aku tidak selalu menambah tabungan. Sebagiannya aku belikan logam mulia dan perhiasan. Tidak besar, tidak rutin bulanan, tapi konsisten dari tahun ke tahun.

Bahkan, maharku pun berupa logam mulia. Nilainya tidak fantastis, tapi punya makna. Waktu itu aku tidak berpikir soal lindung nilai, inflasi, atau diversifikasi aset. Alasannya sederhana: emas terasa aman, nyata, dan tidak mudah habis. Aku membeli emas bukan sebagai strategi, tapi sebagai kebiasaan. Baru sekarang aku menyadari satu hal penting: “apa yang dulu aku lakukan secara intuitif, ternyata selaras dengan prinsip literasi keuangan.”

Aku tidak memposisikan emas sebagai instrumen investasi utama, melainkan sebagai penyimpan nilai dan penyeimbang aset. Ia tidak menghasilkan arus kas, tidak selalu naik cepat, dan sering terasa “membosankan”. Tapi justru di situlah perannya. Emas menjadi penyimpan nilai jangka panjang, pelengkap dari tabungan, RDPU, dan saham yang punya karakter berbeda-beda.Di fase ini, aku tidak lagi melihat emas, saham, atau reksa dana sebagai pilihan yang harus dipertentangkan. Semuanya punya fungsi. Tabungan untuk likuiditas harian. Dana darurat untuk ketenangan. RDPU untuk parkir jangka pendek. Saham untuk pertumbuhan jangka panjang. Dan emas sebagai penyeimbang aset, sesuatu yang nilainya tidak bergantung pada satu sistem saja.

Belajar literasi keuangan membuatku memahami bahwa konsistensi dan tidak FOMO itu sangat penting. Aku tidak selalu membeli saham di harga terbaik. Aku tidak selalu tahu timing jual saham yang tepat. Tapi aku berusaha konsisten, sadar tujuan, dan memahami kenapa aku memilih satu instrumen itu dan membuat keputusan itu.

Pada akhirnya, postingan ini men-capture bagaimana perjalanan keuanganku yang tidak berubah drastis, mulai dari menabung tanpa banyak berpikir, jadi lebih memahami strukturnya. Lalu membeli emas tanpa tujuan, jadi lebih tahu perannya dalam rencana keuangan. Dari takut masuk saham, menjadi cukup paham untuk melangkah pelan dan merasakan imbal baik atau devidennya.

Dan mungkin itu inti dari literasi keuangan versiku. Bukan soal siapa yang paling cepat, paling berani, atau paling untung, tapi siapa yang mau belajar, konsisten, dan tidak malas memahami uangnya sendiri. Pengalaman ini sangat personal, dan tentu tidak bisa disamakan dengan kondisi setiap orang. Selamat belajar literasi keuangan. Semangat bertumbuh.

Leave a Reply