Story

Cerita Perjalanan 3 Tahun Kaizen di Komatsu Group Indonesia

Mirna Kaizen di Komatsu

Kalau ditanya, “Apa hal paling penting yang aku pelajari selama tiga tahun terakhir ?”, mungkin jawabanku bukan teknologi baru atau gelar akademis baru yang aku dapat tahun lalu (2025). Tapi justru satu kata sederhana dari Jepang: Kaizen. Kalau diterjemahkan secara harfiah, berarti perbaikan berkelanjutan. Tapi makna sebenarnya jauh lebih dari sekadar definisi itu. Menurutku, Kaizen adalah cara berpikir dan berproses untuk terus hidup. Sebuah kebiasaan untuk terus mengevaluasi diri, melakukan penyesuaian kecil pada proses, dan moving forward sedikit demi sedikit sehingga bisa merasakan dampak yang lebih baik. Singkatnya PDCA (Plan Do Check Action).

Aku pertama kali mengenal Kaizen atau kegiatan Quality Control Circle (QCC) di kampusku Polman Astra atau Astra Polytechnic, namun sebagai anak IT aku ignore tentang ini, karena biasanya yang terlibat pada project QCC adalah anak teknik mesin, manufaktur, otomotif, elektro dan lain-lain. Sampai pada akhirnya di tahun 2023 aku ikut kegiatan QCC di kantorku, Komatsu Marketing and Support Indonesi (KMSI). Awalnya kupikir ini cuma program perbaikan proses di dunia industri. Tapi ternyata, prinsip Kaizen sebenarnya bisa diterapkan di mana saja.

Di dunia kerja yang serba cepat dan penuh tekanan, Kaizen hadir sebagai pengingat bahwa kita nggak perlu menunggu momen besar untuk berubah. Kita cuma perlu niat dan semangat untuk memulai, walau dari satu ide kecil, satu kebiasaan baru, atau bahkan satu kesalahan yang coba kita perbaiki. Kenapa ini relevan pada semua orang? Karena siapa pun kita, entah itu karyawan, mahasiswa, pemilik usaha, atau bahkan ibu rumah tangga pasti ingin berkembang ke arah yang lebih baik. Dan Kaizen memberikan jalan yang realistis untuk itu. Nggak perlu sempurna, sebuah langkah kecil yang dilakukan secara konsisten akan menghasilkan perubahan.

So, di postingan ini, aku mau berbagi cerita tentang my personal journey saat mengerjakan project Kaizen atau QCC selama tiga tahun terakhir di Komatsu Group Indonesia. Bukan dari sudut pandang teori manajemen yang benar-benar baku, tapi dari sudut pandang seseorang yang sedang belajar, jatuh, bangkit, dan terus mencoba.

Pengalaman 3 Tahun Kaizen di Perusahaan

📍 2023 — Tahun Pertama yang Penuh Pembelajaran

Tahun 2023 menjadi langkah awalku terjun langsung ke dunia QCC. Semuanya terasa baru. Aku masih belajar memahami alur, istilah, dan cara berpikir yang digunakan dalam QCC. Rasa ragu sering muncul—takut salah, takut tidak cukup paham, dan takut tidak bisa berkontribusi maksimal.

Aku bergabung sebagai team member di tim Among Us. Hari-hari kami dipenuhi diskusi panjang, revisi materi yang berulang, dan koordinasi yang tidak selalu mulus. Ada momen lelah, ada juga momen ingin menyerah. Tapi di balik itu, ada rasa hangat karena prosesnya dijalani bersama. Kami saling menguatkan, saling mengingatkan, dan belajar untuk mendengarkan satu sama lain.

Alhamdulillah, kerja keras tersebut membuahkan hasil. Tim kami berhasil meraih juara dan bahkan melanjutkan ke tingkat Global di Jepang, yang diwakili oleh QC Leader kami, Annisa Qurbaini, dan kembali meraih kemenangan. Pengalaman pertama ini menjadi momen yang sangat berkesan—bukan hanya karena hasilnya, tapi karena proses panjang yang kami lalui bersama.

📍 2024 — Belajar dari Kursi yang Berbeda

Di tahun 2024, peranku berubah. Aku tidak ikut bertanding secara langsung, tapi mendapat kesempatan untuk berperan sebagai Koordinator QC Committee KMSI. Dari posisi ini, aku belajar melihat QCC dari sudut pandang yang berbeda.

komentator qcc kaizen

Tugasku bukan lagi menyiapkan materi untuk lomba, melainkan menjadi fasilitator—mendukung, mendampingi, dan memastikan rekan-rekan yang bertanding bisa menjalani proses QCC dengan baik. Saat mendampingi di ajang KGI, aku cukup aktif mengamati, bertanya, dan sesekali memberikan masukan kepada peserta.

So, Di titik ini aku menyadari satu hal penting bahwa kontribusi perbaikan tidak selalu harus datang dari depan panggung presentasi. Menjadi observer, pendengar, dan pendukung proses ternyata juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Bahkan dari peran ini, aku mendapat apresiasi sebagai Best Audience, sebuah penghargaan serta pengingat bahwa value diri tidak selalu diukur dari posisi paling terlihat tapi bisa dari “belakang layar”.

📍 2025 — Melangkah Lebih Jauh

juara 2 kaizen

Tahun 2025 menjadi fase yang paling menantang sekaligus paling bermakna. Aku dipercaya menjadi QC Leader di KMSI dalam tim SYNCHAIN (Singkatan dari Synchronize Supply Chain)  bersama Ahmad Fathur Rahman dan Mochamad Ramadhan Satrio Pratomo.Tim ini dibentuk untuk meningkatkan efektivitas supply chain yang ada. Nama timnya sendiri sebenarnya terinspirasi dari action figure Shincan yang kebetulan aku lihat di meja temanku. Awalnya aku cuma iseng bercanda, tapi tanpa sengaja nama itu langsung disarankan oleh ChatGPT dan akhirnya kami memilihnya. Ternyata, nama itu justru jadi punya makna tersendiri untuk kami, karena meskipun terlihat santai dan lucu, tujuan kami tetap serius dan berhasil memenangkan juara 2 di perusahaan. Namun saat mewakili perusahaan di ajang KGI, peranku berubah menjadi QC Staff (perseorangan) atas keputusan manajemen.

Perubahan peran ini sempat membuatku harus menyesuaikan diri lagi. Ada rasa kecewa karena aku tidak ingin meninggalkan tim yang sudah kompak hingga berhasil menjadi pemenang. Rasanya seperti kehilangan momen tersebut. Namun, aku berusaha untuk tidak terjebak dalam perasaan itu dan mencoba menjalankan amanah sebaik mungkin. Aku memperbaiki materi, memperkuat alur cerita, dan menyampaikan presentasi dengan sepenuh hati. Alhamdulillah, usaha tersebut berbuah manis dengan diraihnya penghargaan sebagai Best Presenter.

presentasi QCC

Yang membuat perjalanan di tahun ini terasa semakin istimewa, case QCC yang aku kerjakan ternyata juga menjadi topik skripsiku di BINUS. Proses yang awalnya dijalani sebagai improvement di tempat kerja, perlahan berkembang menjadi bahan akademik yang aku dalami lebih serius. Di titik ini, aku benar-benar merasakan bagaimana dunia kerja dan dunia akademik bisa saling terhubung dengan sangat relevan.

Refleksi Kaizen sebagai Cara Hidup

Flashback, perjalanan QCC selama tiga tahun ini mengajarkanku bahwa Kaizen bukan tentang siapa yang paling cepat dan paling sempurna. Kaizen adalah tentang konsistensi untuk belajar, keberanian untuk mencoba hal baru, dan kesediaan waktu untuk terus memperbaiki dir, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari tim.

QCC itu bukan hanya soal hasil yang ditampilkan di atas panggung. Ia adalah proses yang membentuk cara berpikir. Tentang bagaimana kita belajar melihat masalah dengan lebih jernih, why why why dan pareto membantu kita mencari tau dan menentukan prioritas dalam mengambil keputusan berdasarkan data, namun harus rendah hati serta berpikiran terbuka mana kala di tengah proses akan banyak revisi atau malah hasilnya gak sesuai ekspektasi yang menyebabkan kita melakukan 1 cycle PDCA lagi.

Dan dari pengalaman inilah, Finally, aku mulai memahami satu hal penting tentang QCC yang menjadi sesuatu istimewa dan berdampak, bukan hanya bagi perusahaan, tapi juga bagi orang-orang yang terlibat serta menjalaninya. Ia memberi ruang untuk bertumbuh, bukan hanya sebagai profesional, tapi juga sebagai personal dalam membentuk pola pikir untuk terus belajar menghadapi perubahan alias continues improvement.

Di postingan berikutnya, aku akan coba sharing tentang tenis membuat materi QCC. So don’t miss it! Selamat ber-improvement di 2026 ini. Salam dari tim Shincan eh Synchain, LOL

tim juara qcc

 

 

Leave a Reply