Healthy, Personal

Oh Begini Rasanya Hipokalemia

Hai apa kabar semua ? AKu berharap saat ini kalian dalam keadaan baik-baik saja, sehat dan tidak kurang suatu apapun. Meski dunia dalam 2 tahun ini seperti berjalan lebih cepat dan mendadak, ku harap semua bisa melewatinya dengan penuh semangat dan harapan yang lebih baik. Doa tak pernah terhenti hingga detik ini supaya segala hal buruk yang sedang terjadi segera berhenti. Seumpama harus terus begini pun, mungkin yang perlu kita lakukan beradaptasi yang tiada henti untuk melangsungkan kehidupan.

Aku bingung ingin menulis postingan ini seperti apa, awalnya ingin serius membahas penyakit yang kualami sebulan yang lalu. Tapi aku ingin memberi ruang aksaraku supaya aku lebih bisa mengeksplor diksiku yang kurasa sudah carut marut tak memiliki identitas yang jelas, hehehe. Salah satu hal yang saat ini aku alami pasca hipokalemia adalah aku sulit menyebutkan kata yang ingin sekali ku ucapkan. Aku membutuhkan jeda waktu untuk mengucapkannya dengan jelas, kadang itu pun harus dikoreksi orang lain. Agak sedih sih dan ngerasa aneh awalnya (duh nulisnya sambil nangis) tapi ya harus dijalani.

Berawal Dari Tipes

Awal April aku mengalami demam tinggi, pada hari itu sebenarnya aku memang sudah merasakan kondisi badan yang luar biasa lelah. Tapi aku memaksakan diri untuk tetap beraktifitas, mulai dari olahraga, memasakan dan beberes rumah. Kaki ini sebenarnya sudah berat tapi aku paksakan diri ngepel dll. Sorenya suamiku mengajakku dan anak-anak  jalan, aku yang jarang banget ke luar rumah dan hampir gak pernah tidak ingin menyianyiakan ajakan ini. Maka aku makin memaksakan diri semuanya beres sebelum pergi. Sesampainya di Mall badanku udah mulai gak karu-karuan. Jalan rasanya lemes, badan mulai anget. Dan pulang dari Mall, aku langsung ambruk. Badanku panas tinggi.

Orang tuaku memastikan indera perasaku masih berjalan dengan semestinya karena khawatir aku sakit akibat virus yang sedang mewabah. Aku tetap bisa merasakan dan malamnya badanku basah se basah basahnya seperti orang disiram air. Segala bantal dan selimut basah parah banget pokoknya. Demamku jauh berkurang. Aku mengganti bajuku. Namun tak berapa lama setelah berganti baju, aku demam lagi.

Singkat cerita, aku ternyata terkena tipes. Aku menjalani swab antigen memastikan memang hanya tipes. Aku dirujuk untuk rawat inap namun aku menolak karena alasan sedang menyusui. 2 kali aku ke klinik yang ku percaya untuk kontrol karena kondisiku tetap tidak begitu baik seperti semula. Kalau boleh aku berasalan, sebenarnya bukan hanya menyusui, tapi aku harus mengantar eyang utiku untuk vaksin ke 2 dan suamiku harus ke Manado 10 hari. Jadi akan sangat merepotkan jika aku harus dirawat. Gimana utiku, gimana anak2, dan gimana aku nanti dirawat sendirian di RS.

Namun hingga 3 minggu kondisiku tetap tak kunjung membaik. Berat badanku makin turun dan turun terus secara drastis. Hal ini karena mulutku tidak enak untuk makan, nafsu makanku menurun dan aku turutin. Padahal aku sedang menyusui yang perlu asupan gizi yang cukup untuk diriku dan anakku melalui ASI. Alhasil di minggu ke 4 badanku lemah lagi dan itu menjelang Lebaran. Awalnya, aku gak kuat membuka tutup galon, lanjut aku susah gerak, aku sulit jalan, aku sulit buang air dan ini konstipasi terparah, aku makin down saat aku kerja aku susah mikir, aku sedih nangis walau hanya sebentar, aku insecure dengan diriku sendiri yang jadi lemah, sampai pada suatu pagi aku tidak bisa memakai baju sendiri. Dan saat itu, aku berusaha masih kuat, aku tidak ingin mengkhawatirkan orangtuaku.

Tapi kondisi fisikku tidak bisa berbohong, hingga aku minum vitamin B12, bukannya enakan badanku malah super lemas, berdebar gak karuan, kepala berputar. Bundaku yang tipikal seperti itu juga makin membuat aku down karena beliau mengaitkanku dengan tetangga yang harus operasi pemotongan usus pasca tipes karena bakterinya masih tertinggal. Aku makin kepikiran dan ngedrop. Bunda juga telfon dokter kepercayaanya dan menyuruhku minum maltover berdasarkan analisa dia by phone tetang kondisiku yang udah gak bisa atau susah bergerak. Namun aku diminta segera ke rumah sakit untuk pertolongan lebih lanjut dan tidak boleh ditunda.

Masuk Rumah Sakit

Aku masuk rumah sakit per tanggal 18 Mei 2021, karena badanku yang susah digerakkan. Sesampainya di RS aku menggunakan kursi roda untuk sampai ke ruang periksa dokter. Aku bawa hasil labku sebelumnya yang menyatakan aku tipes. Gak pakai lama aku pun langsung disuruh rawat inap.

Sebelum masuk tentu aku menjalani tes swab dan rontgen paru untuk melihat apakah aku suspect covid alhamdulillah hasilnya bagus semua dan memang ternyata aku tipes aja. Kala itu ruangan penuh jadi aku menjadi pasien titipan di kelas Delux lalu keesokan harinya menjadi pasien kelas 1 karena lagi lagi kamarnya penuh.

Kondisiku belum membaik, dan belum diketahui aku tuh sakit apa, di tes lab pertama ternyata bakteri tipesnya masih ada cuma ada infeksi. Tapi infeksi apa belum tau. Aku susah tidur karena takut kalau tidur ga bangun lagi… beneran aku mikir kayak mau mati… apalagi kalau lagi ngedrop atau “serangan” itu badanku rasanya lemes tapi jantungku berdebar lebih kencang…(nulis sambil nangis lagi). Saat seperti itu pikiranku tertuju pada 1 orang yaitu atasanku, aku khawatir apakah ini serang jantung karena beliau memiliki penyakit jantung.

Setelah subuh atau sekitar jam 6an ketika suamiku beli sarapan, aku telfon atasanku, almarhum Pak M. Heri Pudji Santoso. Aku ceritain kondisiku, mulai dari sesenggukan sampe nangis kejer aku telfon beliau. Aku meminta disambungin ke istrinya yang merupakan Psikolog di RS Hermina juga. Beliu sempat mengkhawatirkan apakah aku baby blues atas rasa over thinking dan insecure ku. Dan di akhir sesi beliau mengajarkanku pernapasan supaya tetap tenang saat “serangan”, biar aku ga panik dan tetap rasional. Pesan beliau saat itu adalah gak ada yang bisa bantu ketika kita serangan jantung, hindari panik dan langsung terapi pernapasan. Kita harus bisa mengelola kepanikan dengan baik, harus dari dalam diri sendiri. (nulis ini sesenggukan lagi mengingat almarhum yang berpulang pada 7 Agustus 2021)

Well back to ceritaku di RS. Sampai di hari jumat atau hari ke 4,,, pagi aku baik-baik aja. Setelah itu aku diinfus sesuatu yang warnanya pink. katanya sih itu vitamin tapi bukannya membaik. aku malah lemes banget banget banget… Aku kira Jumat pagi aku udah mendingan, bisa pulang kali ya sore atau sabtu pagi. Tapi aku bener-bener lemes dan akhirnya manggil perawat dan dilepaslah itu infusan. Perawat diminta cek hasil labku di hari itu. Jadi setiap hari aku pasti cek darah dan seperti general check up kalo dipikir-pikir. Nah ternyata nilai kaliumku rendah banget yaitu 2 dari nilai normal 4-6.

Ternyata Aku Hipokalemia

Diambil dari Alodokter.com

Hipokalemia adalah kondisi ketika tubuh kekurangan kalium atau potasium. Kondisi ini dapat dialami siapa saja, terutama penderita diare atau muntah-muntah. Penanganan hipokalemia perlu segera dilakukan guna mencegah komplikasi serius, seperti gangguan jantung.

Kalium adalah mineral dalam tubuh yang mengendalikan fungsi sel saraf dan otot, terutama otot jantung. Kalium juga berperan dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh dan mengatur tekanan darah. Ketika kadar kalium dalam tubuh berkurang, berbagai gejala akan muncul, tergantung kepada jumlah kalium yang hilang.

Kadar kalium dalam darah yang sangat rendah, yaitu kurang dari 2,5 mmol/L, dapat berakibat fatal. Kondisi ini tergolong hipokalemia berat. Beberapa gejala hipokalemia berat yang dapat muncul adalah:

  • Ileus paralitik
  • Kelumpuhan
  • Gangguan irama jantung (aritmia)
  • Henti napas

Well, berdasarkan yang aku ceritakan kalau berawal dari tipes, nafsu makanku turun drastis padahal aku menyusui sehingga nutrisi yang masuk selalu defisit, dan itu yang membuat sembelit jadi aku konsumsi obat pencahar sehingga makin berkurang kaliumnya, karena dari yang aku baca obat pencahar termasuk kedalam obat diet, aku bener-bener ga ngeh padahal itu udah masuk ke gejalas illeus pralitik. Aku pernah di momen udah pakai pencahar tetep ga keluar padahal udah 4 hari gak buang air besar dan badanku lemes.

Karena kadar kaliumku cuma 2 artinya sangat rendah kan,,, aku merasakan 3 gejala diatas, amit-amit gak sampai yang ke 4 cuma aku tiap malam kalau mau tidur jadinya takut,, aku takut ga bisa bangun lagi huhuhu (nangis lagi)

Langsung di hari itu juga aku dipasang infus kalium, karena kalium itu cairannya lebih kental sehingga harus pakai alat pompa infus untuk mengatur laju infus per jam harus berapa mili, 1 kantong infus setidaknya membutuhkan waktu 6-8 jam, belum kalau harus jeda pemberian infus lain seperti sanmol, vitamin, dll. artinya aku menhabiskan waktu cukup lama, setelah 3 kantong infus kalium, aku periksa lagi kadar kalium dan nyatanya masih 2,75 padahal itu udah 2 harian jadi nambah 4 kantong lagi, dan itu pun mentok di 3,5.

Saat mengetahui aku kekurangan kalium, aku diminta konsumsi pisang sebanyak banyaknya, diberi obat minum kalium juga tapi sehari cuma 2 kali karen sudah di infus juga. Cairan Kalium yang kental juga menyebabkan pembuluh darahku bengkak, sehingga pindah lokasi infus. Itu juga yang mengakibatkan badanku demam menjelang pulang, sudah di infus sanmol 2 botol tapi tetap begitu jadi solusinya ya memang harus copot semua infusan ganti obat oral dan tetap pulang.

“oleh-oleh” sakit ini adalah sekarang aku sering mengalami gangguan kecemasan, insecure, dan vertigo sehingga vitamin penunjangku juga berupa vitamin otak dan syaraf. Saat ini aku masih mengkonsumsi apalagi kalau aku benar-benar drop.

Well, itu saja ceritaku tentang rasanya hipokalemia yang sempat membuat hidupku dititik terendah di bulan Mei 2021 kemarin. Semoga teman-teman sehat semua

 

(25) Comments

  1. Aku baru denger ada sakit Hipokalemia ini, dan se-berbahaya itu yaa, bisa berakibbat fatal ke jantung juga.
    Makasih udah sharing ttg hipokalemia ini yaaa

    Ya Allaahhh… semogaaa mba Mirna (dan kita semua) sehat2 selaluuuu

  2. Aku baru tahu soal hipokalemia ini. Baca aja rasanya ikut nano-nano. Semoga tetap sehat ya, Mbak. Yuk semangat buat sembuh

  3. Nama penyakitnya ada namaku di situ hehe. Wah ternyata bisa merembet juga ya dari tipes ke hipokalemia. Artinya memang kita membutuhkan nutrisi yg tepat bagi tubuh supaya kesehatan tetap terjaga.

  4. Mbak *virtual hug
    Baru kali ini dengar hipokalemia, terima kasiih banget mbak udah mau berbagi walau tahu ini susah payah mbak tulis. Huhuhu
    Semoga insya Allah mbak bisa pulih ya. Semangat semangaaat mbak.

  5. Peluk Mbak Mirna..
    Semoga saat ini kondisinya sudah baik ya
    Aku baru ngeuh apa itu hipokalemia dari artikel ini.
    Apapun Alhamdulillah sudah tertangani…semangat pulih seperti dulu lagi:)

  6. Semoga saat ini kondisinya sudah membaik dan terus membaik ya Mbak Mirna. Aku baru kali ini tahu tentang Hipokalemia. Baca gejala beratnya bikin was-was, semoga tidak terjadi di Mbak Mirna. Sehat-sehat terus ya mbak.

  7. Ya Allah dari tipes bisa ke Hipokalemia, baru tahu ini. Semoga cepat fit kembali ya. Aku cuma tahunya kalau diare bisa dehidrasi ringan aja ternyata bisa juga penyakit lain. Ujiannya subhanallah, alhamdulillah bisa terlalui ya mba

  8. Baru tahu kalau kekurangan potasium dan kalium bisa menimbulkan gejala sebanyak itu. kebayang deh takutnya. Untunglah bisa segera ditangani oleh dokter dan RS yang tahu benar penyakit ini.

  9. Kak Mirnaaa..
    Subhanallahu.

    Manusia yang super kompleks ini bener-bener gak bisa kalau melupakan asupan tertentu, meski itu adalah mikro nutrisi yaa….
    Semoga sehat-sehat terus kak…
    Gak kambuh lagi, Hipokalemia.

  10. Hai mba Mirna. Lama juga tak bersua. Sedihnya baru tahu kisah ini dan baru ngeh juga ada penyakit ini. Kebayang paniknya mba sampai tak bisa buka baju dan kondisi lemah bener

    1. Mba Mirna sehat sehat selalu ya. Makasih sudah dikenalkan dengan nama penyakit ini. Aku juga baru tahu, nggak boleh sembari mengesampingkan asupan ya manusia itu. Semoga kita semua sehat terus aamiin

  11. Subhanallah, Mba Mirnaaa.
    Terima kasih sudah berbagi, Mba. Baru tahu hipokalemia. Semoga Mba Mirna segera pulih sepenuhnya ya, Mbak.

  12. Era Sapamama says:

    Jadi insight baru bagiku mam. Ternyata diare dan muntah-muntah bisa menyebabkan penyakit serius seperti ini ya. Harus makin waspada dengan alaram tubuh kita untuk pencegahan ya.

  13. Ya Allah ternyata kekurangan kalium efeknya berat juga ya mbak sampai dikira sakit jantung dan lainnya.. Alhamdulillah sudah dilewati dengan baik, smeoga sehat selalu sekeluarga ya aamiin..

  14. Ya Allah ternyata kekurangan kalium bisa merembet ke mana-mana ya Alhamdulillah sudah dilewati dengan baik, semoga sehat selalu Mbak..

  15. Wah mbak, aku baru tahu kalau kekurangan kalium bisa menyebabkan kondisi tubuh drop juga atau istilahnya Hipokalemia. Tambahan pengetahuan baru nih soalnya di masa pandemi seperti sekarang ini selalu mengarah ke virus yang satu itu. Ternyata asupan nutrisi dan mineral dalam tubuh harus cukup ya. Sehat selalu ya mbak.

  16. aku baru tau dek kamu ini
    berarti ga boleh capek capek juga ini
    jaga kesehatan terus biar ga hiokalemia lagi yaaaa. hayooo semangatttt ada anak-anak menantimu menemani mereka sampai mereka dewasa nanti

  17. Aamiin, insyallah sehat selalu buat kita semuaa. Iya nih sekarang sakit hipokalemia mulai banyak juga nih.
    Dan ternyata oleh2nya jadi larinya ke kesehatan mental juga ya, anxiety, dllnya.

  18. Alhamdulillah ya mak sekarang sudah mulai pulih dan sehat kembali. memang kalo sakit typus buat terapi penyembuhannya lama yah, lemasnya itu loh yang juga kadang masih saya rasakan. semangat sehat ya mak

  19. jujur mbak, aku baru tau penyakit Hipokalemia . Alhamdulillah sekarang udah mulai membaik. Insay Allah sehat selalu ya mbak, semoga selalu dalamlindungan Allah, aamin

  20. Semangat mba luar biasa, di saat sakitpun masih tetap produktif. Jadi tambahan wawasan baru bagi saya mengenai penyakit ini.

    Tetap semangat dan semoga cepat sembuh yah mba.

  21. Sehat2 terus ya Mira. Jadi inget alm. Papa yg setelah pulang dr RS saat menderita muntah2 & diare tiba2 kakinya lemas tdk bisa digerakkan. Kami sempet mikir itu m ungkin masih lemes karena masih masa pemulihan. Pas konsul ke dokter, disuruh rawat lagi, sempat ditreatment apa gitu, tapi tetap ga ngaruh, kaki papa tetap saja lemah. Aku sampai cari referensi sana sini, papa sempet fisioterapi, dsb, ga membantu. Aku sempet curiga kalau kasus itu ada hubungannya dg kekurangan kalium. Baca ini aku makin yakin itu penyebab kaki alm. Papa lemas sesudah diare

  22. Ya Allah mbak, baru tahu mbak Mirna kena penyakit Hipokalemia. Beneran berat ya mendapatkan penyakit ini hingga ga bisa bergerak dan lemas. Semoga sekrang sudah sehat sepernuhnya ya mbak. Iya, aku juga tahu pisang banyak mengandung kalium pas hamil anak ke-6. Karena aku kan resiko tinggi ya, jadi beneran baca-baca referensi supaya badan fit. Ternyata kekurangan zat kalium ini berbahaya banget yaa. thank infonya ya mbak

  23. Ternyata kekurangan kalium bisa berat/parah banget efeknya bagi tubuh ya. Walau sudah diinfus sampai pembuluh bengkak ternyata kenaikan kadar kalium dalam darah nggak bisa langsung naik banyak.

    Hipokalemia, istilah baru nih buat saya. Semoga kita selalu sehat ya mbak

  24. niaharyanto says:

    Wah, baru tau dengan penyakit ini. Ngeri juga ya kalo berlarut-larut. Alhamdulillah ya udah sehat. Jadi aware deh aku dengan kekurangan Kalium ini. Sehat-sehat ya kita semua.

Leave a Reply

%d bloggers like this: